Navigasi Realitas Baru di “This Economy”
Bagaimana Kita Bertahan dan Tumbuh dalam Ekonomi yang Tak Menentu
“Dalam this economy?” adalah pertanyaan retoris yang kini jadi semacam refleks sosial saat seseorang hendak mengambil keputusan besar—entah itu pindah kerja, beli rumah, membuka bisnis, bahkan sekadar berlibur. Frasa ini mencerminkan kenyataan pahit bahwa kondisi ekonomi global telah bergeser drastis, dan setiap keputusan keuangan kini terasa seperti perjudian.
Namun, di balik kegetiran dan lelucon sarkastik itu, ada sebuah kenyataan penting: kita sedang berada dalam era transisi ekonomi besar-besaran. Dan seperti semua era perubahan, hanya mereka yang mampu beradaptasi yang akan bertahan dan tumbuh.
Apa Itu “This Economy”?
Secara harfiah, “this economy” berarti “ekonomi yang sekarang”—tapi secara makna, istilah ini jauh lebih dalam. Ia adalah meme sosial, narasi budaya, sekaligus realitas ekonomi yang menyentuh hampir semua aspek kehidupan:
- Biaya hidup meningkat tajam
- Harga properti tak terjangkau
- Gaji tetap atau bahkan menurun
- PHK dan otomatisasi pekerjaan merebak
- Pendidikan mahal, tapi tidak menjamin masa depan
- Dan satu hal yang pasti: ketidakpastian itu sendiri
Istilah ini digunakan ketika seseorang merasa keputusan keuangan mereka yang dulu “normal” kini terasa tidak masuk akal. Contoh:
- “Kamu mau ambil S2 full time?”
“Dalam this economy?” - “Mau buka kafe?”
“Dalam this economy?” - “Mau resign dari kantor yang stabil demi passion?”
“Dalam this economy?”
Fenomena-Fenomena yang Muncul di “This Economy”
1. The Rise of Frugal Living
Gaya hidup hemat bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Banyak orang beralih ke belanja secondhand, barter, dan gaya hidup minimalis untuk bertahan.
2. Workforce Shifting
Munculnya gelombang “The Great Resignation”, “Quiet Quitting”, dan sekarang “Loud Leaving”—fenomena di mana karyawan mulai mendefinisikan ulang makna pekerjaan, bukan sekadar soal uang, tapi juga keseimbangan dan nilai diri.
3. Insecure Work Culture
Kontrak pendek, freelance, dan gig economy jadi norma baru. Banyak yang merasa tidak punya kendali atas masa depan kariernya.
4. Teknologi yang Menyaingi, Tapi Juga Membantu
AI menggantikan pekerjaan rutin, tapi juga membuka peluang: dari jadi content creator, AI trainer, konsultan digital, hingga menjual produk buatan sendiri.
5. Krisis Kepercayaan pada Sistem
Banyak orang mulai skeptis terhadap sistem pendidikan formal, sistem asuransi, bahkan keuangan perbankan. Akibatnya, banyak yang beralih ke komunitas kecil, koperasi, dan investasi alternatif.
Strategi Bertahan dan Tumbuh dalam “This Economy”
1. Kenali Nilai dan Potensi Diri Sendiri
Jangan bergantung sepenuhnya pada “label pekerjaan”. Di masa seperti ini, orang yang paham kekuatan uniknya—entah itu menulis, desain, berbicara, mengatur, atau mengajar—akan mampu menciptakan nilai bahkan tanpa jabatan resmi.
2. Fleksibilitas Adalah Mata Uang Baru
Kita hidup di era “bukan siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling cepat beradaptasi”. Belajar hal baru secara cepat dan ringan—seperti copywriting, pemasaran digital, keuangan mikro—bisa menyelamatkan posisi Anda di masa sulit.
3. Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar CV
Jejaring, komunitas, kolaborasi. Di era ini, siapa yang Anda kenal bisa menjadi jembatan rejeki. CV hebat tidak berarti banyak jika Anda tidak terlihat.
4. Bangun Side Hustle Sekecil Apa Pun
Tidak semua usaha harus langsung viral atau besar. Jual makanan buatan sendiri, konsultasi kecil, konten edukatif, jasa penulisan—semuanya bisa jadi income stream tambahan yang pelan-pelan tumbuh.
5. Tetap Belajar: Soft Skill dan Literasi Finansial
Pahami dasar-dasar keuangan pribadi: utang sehat vs. utang konsumtif, investasi sederhana, perencanaan pensiun, bahkan pengelolaan dana darurat. Jangan serahkan semua urusan keuangan Anda pada “nasib”.
This Economy Adalah “Ujian Kesiapan” Mental dan Karakter
Kondisi ini menguji lebih dari sekadar kecerdasan—ia menguji ketahanan. Ia menantang:
- Seberapa tahan kita menghadapi ketidakpastian?
- Seberapa kreatif kita menciptakan peluang?
- Seberapa jujur kita melihat realita dan tetap berani melangkah?
Di tengah segala kesulitan, muncul komunitas baru yang kuat, kreatif, dan saling mendukung. Orang mulai sadar pentingnya gotong-royong ekonomi, berbagi informasi, dan tumbuh bersama.
Penutup: Berubah Bukan Pilihan, Tapi Keperluan
Yes, this economy memang berat. Tapi kita tidak bisa menunggu sampai dunia kembali “normal”—karena bisa jadi normal yang dulu tidak akan pernah kembali.
Kita justru harus menciptakan normal baru versi kita sendiri:
- Karier yang sesuai nilai hidup
- Penghasilan dari hal yang kita cintai
- Kehidupan yang tidak dibangun dari utang semata
- Rasa cukup yang tidak ditentukan oleh konsumsi
“Dalam this economy?”
Iya. Bahkan dalam this economy, kita tetap bisa hidup dengan arah, makna, dan harapan.
Sumber gambar : melalui Google Images, lisensi Creative Commons.

